Perusahaan Fiktif, Modus Pencurian Kayu di Sulawesi Tenggara

in Sulawesi Tenggara
Hits: 130

Kabupaten Buton dan Muna, Sulawesi Tenggara sejak dulu menjadi pemasok berbagai jenis kayu ke berbagai wilayah. Bahkan Kabupaten Muna memiliki hutan jati terbesar di Sultra.  

Pada awal tahun 200-an, Sultra memiliki potensi hutan jati yang sangat besar. Bahkan, pemerintah ketika itu mencatat PAD Sultra dari potensi jati mencapai Rp 14 Miliar pada tahun 2010 dan meningkat jadi Rp 42 Miliar pada tahun 2014.

Kayu-kayu dari wilayah ini menjadi sumber bahan baku untuk keperluan industri di Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Jawa Tengah dan sejumlah wilayah di Kalimantan.

Berdasarkan hasil investigasi JPIK Sultra, potensi jati Muna tinggal kenangan. Bahkan industri-industri kayu raksasa di sana juga mati perlahan. Ada dua perusahaan kayu punya andil besar dalam perdagangan kayu di Buton dan Muna. Yaitu CV Nurtiba di Muna, dan PT Satya Jaya Abadi yang berkantor di Kota Bau-bau, Buton.

Saat ini dua perusahaan tersebut tak lagi beroperasi. Izin CV Nurtiba sudah dicabut lembaga LVLK, sedangkan PT Trustindo Prima Karya tutup karena habisnya jati di Muna. Dari rekam jejaknya, kedua perusahaan tersebut pernah terlibat pembalakan liar.

UD Sumber Alam Jatindo saat ini menjadi satu-satunya unit manajemen ber-SVLK yang beroperasi  di Buton dan Muna. Unit manajemen ini mendapatkan legalitas penilaian dari PT BRIK Quality Service dan telah 2 kali menjalani penilikan, tahun 2015-2017. Dari hasil audit, UD Sumber Alam Jatindo telah memenuhi standard SVLK, dengan tanggal berakhirnya S-LK  8 Januari 2021.

Namun, tim pemantau dari JPIK Sultra menemukan indikasi bahwa perusahaan ini fiktif. Ketika ditelusuri, industri tersebut tidak terdapat di lokasi yang dicantumkan dalam dokumen legalitas, yaitu di Kelurahan Watulea, Kecamatan Gu, Kabupaten Buton Tengah. Bahkan aparat kelurahan di alamat yang tercantum pun tidak mengetahui keberadaan perusahaan tersebut. Beberapa pengrajin mebel di Kecamatan Gu, juga tidak mengenal nama perusahaan tersebut.

Setelah melakukan investigasi, JPIK Sultra mencurigai perusahaan tersebut dibuat hanya untuk kebutuhan operasional, yaitu menggantikan 2 perusahaan yang sebelumnya dibekukan karena melakukan pelanggaran. UD Sumber Alam Jatindo muncul setelah 2 perusahaan tersebut dibekukan dan mengambilalih peran sebagai penampung bahan bakunya.

Kejanggalan lain juga diungkap Lurah Watulea, saat ditemui di kediamannya. Menurutnya, Buton Tengah, khususnya Kecamatan Gu bukan pemasok kayu olahan jati yang bisa mencapai ribuan kubik. Sebab Kecamatan Gu hari ini dikenal sebagai pemasok kacang mete. Ia juga menambahkan, selama kepemimpinannya, belum ada pengurusan dan pemberkasaan perusahaan kayu olahan.

Berdasarkan pengalaman Komnas Desa selaku focal point JPIK Sultra, Buton Tengah memang bukanlah penghasil kayu jati, yang menjadi sumber utama bahan pasokan industri primer bagi UD Sumber Alam Jatindo. Daerah ini memang hanya dikenal sebagai penghasil kacang mete di Sulawesi Tenggara.

Dari fakta lapangan tersebut, pemantau menduga, Sumber Alam Jatindo hanya dipakai sebagai alat transaksi perdagangan kayu dengan modus “pinjam bendera”. Kekhawatiran awal tim pemantau, perusahaan fiktif ini ada kaitannya dengan CV Nurtiba Baru dan PT Satya Jaya Abadi yang sudah dicabut izinnya oleh lembaga penilai SVLK.

Leave your comments

Comments

  • No comments found