Laporan Indikasi Perusahaan Fiktif, UD Sumber Alam Jatindo Merespon

in Sulawesi Tenggara
Hits: 319

Pada April 2019, JPIK Sulawesi Tenggara menelusuri keberadaan UD Sumber Alam Jatindo di Kabupaten Buton Tengah. Industry pengolahan ini adalah satu-satunya industri kayu yang ber-SVLK  di Buton. UD Sumber Alam Jatindo mendapatkan legalitas penilaian dari PT BRIK Quality Service dan telah dua kali penilikan, tahun 2015-2017. Dari hasil audit, perusahaan telah memenuhi standar SVLK, dengan tanggal berakhirnya S-LK  8 Januari 2021.

Sumber Alam Jatindo memegang IUPHHK Hutan Hak. Lokasi kelola saat ini berada di Pulau Buton, tepatnya di Kecamatan Gu, Kabupaten  Buton Tengah, Sulawesi Tenggara. Penelusuran awal pemantau menemukan adanya indikasi perusahaan fiktif yang mengatasnamakan UD Sumber Alam Jatindo.

Kecurigaan ini muncul lantaran industri tersebut tidak ada di lokasi yang dicantumkan dalam dokumen legalitas, yaitu di Kelurahan Watulea, Kecamatan Gu, Kabupaten Buton Tengah. Aparat pemerintah setempat pun tidak tahu-menahu perihal keberadaan perusahaan. Menurut keterangan pengrajin  mebel, di Kecamatan Gu tidak ada nama perusahan tersebut.

Kejanggalan lain juga diungkap Lurah Watulea. Menurutnya,  Buton Tengah, khususnya Kecamatan Gu bukan pemasok kayu olahan jati yang bisa mencapai ribuan kubik. Wilayahnya hanya dikenal sebagai pemasok kacang mete.

Setelah ditelusuri lebih jauh pada Juli 2019, pemantau menemukan kejelasan tentang lokasi perusahaan. Informasi tersebut disampaikan pegawai Dinas Kehutanan Sulawesi Tenggara, La Ode Nasrul. Dari keterangan Nasrul, perusahaan Sumber Alam Jatindo berada di wilayah terpencil, jauh dari akses jalan dan wilayah pemukiman penduduk.

Keberadaan perusahaan dibuktikan dengan dokumentasi berupa foto lokasi pabrik pada 2016. Selain itu, Nasrul juga menunjukkan surat  masuk dari Sumber Alam Jatindo kepada Dinas Kehutanan tertanggal 19 Juli 2019 tentang Rencana Pemenuhan Bahan Baku Industri (RPBBI) perusahaan.

Atas keterangan tersebut, JPIK Sulteng memantau langsung ke lokasi yang dimaksud, yaitu Kelurahan Watulea, Kecamatan Gu, Buton Tengah. Dalam proses investigasi, pemantau memperoleh informasi kejelasan perusahaan dari staf UPTD KPH Unit IV Katondoki, Kecamatan Gu, La Ode Fadas. Lelaki 41 tahun ini pun membenarkan adanya perusahaan yang beroperasi di diwilayah KPH. Sayangnya, sejak berdirinya UPTD pada 2016, perusahaan tidak pernah menyetor laporan. Lokasi perusahaan jauh dari pemukiman warga Watulea, tepatnya berada di kawasan  perkebunan warga yang berbatasan dengan Desa Metere.

Dari keterangan Fadas, perusahanaan memperoleh bahan baku dari kebun masyarakat di Desa Lakapera dan Desa Bantea dengan bermodalkan surat keterangan kepemilikan dari desa setempat. Senada dengan keterangan La Ode Fadas, Pimpinan Perusahan UD. Sumber Alam Jatindo, Dirman Sidik menjelaskan bahwa perusahahaannya memperoleh bahan baku dari kebun masyarakat yang berasal dari Kecamatan Gu, Kabupaten Muna, bahkan sebagian berasal dari kebun masyarakat di Kota Baubau.

Disman Sidik menambahkan,  perusahannya berfokus pada kayu gergajian setengah jadi,  sebagian besar jenis kayu yang diolah adalah Jati. Sementara untuk daerah tujuan pengiriman adalah Semarang dan Surabaya melalui Pelabuhan Kontainer Kota Baubau.

Namun, dalam kurun waktu satu tahun terakhir, nyaris belum ada aktivitas pengolahan dan penjulan perusahaan. Kendati demikian, perusahaan tetap melakukan revisi sertifikat legalitas kayu, dengan harapan ada masyarakat yang menawarkan kayu ke perusahaan.

Dari hasil investigasi pemantau, tidak ditemukan adanya aktivitas pengolahan kayu di perusahan tersebut. Termasuk karyawan perusahaan, juga tidak ditemukan di lokasi. Yang ada hanya beberapa mesin pemotong dan beberapa tumpukan kayu olahan setengah jadi dengan volume yang sangat kecil. Areal perusahaan pun tidak memiliki papan nama perusahan.

Leave your comments

Comments

  • No comments found