Donggala Masih jadi Ladang Subur Pembalakan Liar

in Sulawesi Tengah
Hits: 184

Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah baru saja pulih dari bencana gempa bumi. Donggala dan sejumlah wilayah lainnya di Sulawesi Tengah terguncang gempa yang menelan ribuan korban pada 28 September 2018.

Kabupaten Donggala termasuk wilayah yang terdiri dari pegunungan dan pantai. Wilayah ini memiliki wilayah hutan yang cukup luas, mencapai 302.257,17 hektare untuk hutan negara dan 225. 311,84 hektare hutan rakyat (BPS,2016).  Sayangnya, hutan yang luas ini juga menjadi ladang subur aktivitas pembalakan liar.

Pada 2015, kepolisian menyita puluhan kubik kayu jenis rimba campuran yang bersumber dari Hutan Donggala.  Sebelumnya, pada Oktober 2014, Polres Donggala menangkap tiga pelaku pembalakan liar di Hutan Desa Jono Oge, Kecamatan Banawa.  Pada April 2009, kepolisian kembali mengamankan kayu hasil pembalakan liar yang bernilai miliaran rupiah dari hutan produksi Donggala.

Dampak kerusakan ekosistem hutan seperti banjir bandang dan tanah longsor tampaknya bukan sesuatu yang menakutkan bagi para pelaku pembalakan liar di Donggala. Terbukti, kayu-kayu yang tersisa di wilayah ini masih jadi incaran para cukong.

Regulasi dan pengawasan nyatanya tak membuat para pelaku jera. Mereka bahkan memanfaatkan masyarakat di sekitar hutan yang sebagian besar memiliki tingkat perekonomian di bawah rata-rata, yang menggantungkan hidupnya dari hasil-hasil hutan.

Dari hasil penelusuran Jaringan Pemantau Independen Kehutanan (JPIK) Sulawesi Tengah, salah satu wilayah di Kabupaten Donggala yang masih menjadi sasaran empuk pembalakan liar adalah Kecamatan Sirenja. Wilayah ini berjarak sekitar 120 kilometer dari Palu dengan 13 desa dan sekitar 18.000 penduduk. Mayoritas masyarakat berprofesi sebagai petani dan nelayan.

Di wilayah ini telah dibentuk Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Dolago Tanggunu berdasarkan surat keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2012. KPH ini memiliki area seluas 144.349 Ha, terdiri dari Hutan Lindung seluas 67.794 Ha, Hutan Produksi Terbatas seluas 57.548 Ha dan Hutan Produksi Tetap seluas 19.008 Ha.

Selain wilayah hutan, sebagian wilayah kecamatan ini juga merupakan daerah pesisir yang menjadikan wilayah ini sangat strategis untuk melakukan penyeludupan kayu ke daerah lain seperti Kalimantan, dengan jarak tempuh sekitar 9 jam dengan perahu.

Dari hasil penulusuran Tim Pemantau di Kecamatan Sirenja, tepatnya di Desa Sipi dan Desa Sibado, ditemukan adanya aktivitas penebangan kayu. Pemantau menemukan tumpukan kayu, traktor dan gerobak penarik  kayu yang digunakan untuk mengangkut kayu oleh pelaku  pembalakan liar. Kayu-kayu ini diketahui bersumber dari wilayah KPH Dolago Tanggunu.

Di desa ini, kayu yang tadinya berbentuk bantalan, juga diubah menjadi kayu olahan. Ada sejumlah tumpukan kayu berukuran 5x5 cm, 5x7 cm, dan 6x8 cm, sesuai permintaan perusahaan. Kayu-kayu tersebut kemudian disuplai ke sejumlah perusahaan olahan di Donggala dan Kota Palu, bahkan sampai ke Kalimantan.

Setelah penelusuran lebih jauh, ditemukan fakta bahwa pola rantai pembelian kayu ilegal di Desa Sibado, Sipi dan Jono Oge ini juga melibatkan aparat desa. Diketahui bahwa pemerintah desa juga melakukan aktivitas penebangan tanpa izin. Aparat desa bahkan memberikan modal untuk proses penebangan pohon dan pengelolaan kayu bantalan menjadi ukuran yang lebih kecil kepada penebang. Selain itu, ada juga pelaku pembalakan yang menggunakan modal pribadi dan menjual kayu secara bebas ke cukong-cukong kayu yang ada di Kecamatan Sirenja.

Dari hasil pemantauan juga didapatkan pola lain. Kayu yang telah ditebang diangkut ke tempat pengolahan sebelum dipasarkan ke Kota Palu. Di Desa Sibado ditemukan dua sawmill berskala besar yang menerapkan dua pola. Pertama pola olah jasa, yaitu pemilik sawmill menerima bantalan kayu dari cukong kayu lokal untuk diubah menjadi kayu olahan. Kedua adalah pola pendah kayu. Yaitu unit manajemen sawmill yang membeli kayu bantalan yang kemudian diolah dan menjualnya ke pihak-pihak tertentu.

Dari temuan awal ini, JPIK Sulteng akan menelusuri lebih jauh tentang pihak-pihak yang terlibat dalam pembalakan liar tersebut. Termasuk memantau beberapa wilayah lainnya yang juga berpotensi terjadi kasus serupa.

Leave your comments

Comments

  • No comments found