Selundupkan Kayu Merbau, Perusahaan Kayu di Maluku Utara Manipulasi Dokumen Pelaporan

in Maluku Utara
Hits: 436

Jaringan Pemantau Independen Kehutanan (JPIK) Maluku Utara (Malut) terus pemantauan salah satu perusahaan kayu terbesar di Ternate, PT. Bela Berkat Anugerah (BBA). Perusahaan ini melakukan aktivitas HPH di wilayah Pulau Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, di Desa Yaba dan dan Desa Jojame. Informasi yang didapatkan pada awal 2019 perusahaan melakukan pemuatan kayu di wilayah Sayoang, Desa Babang- Halmahera Selatan.

Perusahaan yang berkantor pusat di Jalan Hasan Boesoerie Gamalama, Kota Ternate Tengah, Ternate ini sebelumnya terindikasi melakukan pelanggaran aktivitas produksi dengan menggunakan sungai Sayoang sebagai media untuk mengeluarkan kayu pada musim hujan. Selain itu, perusahaan juga tidak memiliki penataan jalan produksi dari Tempat Penimbunan Kayu (TPK) hutan menuju tempat mengumpulan kayu atau log pond dengan melewati sungai dan kali.

Pada bulan Mei 2019, JPIK Maluku Utara lagi-lagi menemukan indiksasi pelanggaran PT BBA. Kali ini terkait aktivitas pemuatan kayu yang dilakukan perusahaan di log pond atau dermaga angkut kayu, Desa Bori Kecamatan Bacan Barat. Dari proses pemantauan lapangan, ditemukan PT. BBA mengangkut kayu dengan mengunakan kapal Tuckboat Prasetya 10 dan Prasetya 15 dengan tujuan ke PT Sumber Graha Sejahtera, Palopo, Sulawesi Selatan.

Jenis kayu yang berada di lokasi log pond sepintas terlihat adalah jenis kayu rimba campuran. Namun, setelah dilihat lebih teliti, ternyata terselip di dalam timbunan kayu tersebut ada jenis kayu merbau yang dilengkapi barcode. Tumpukan kayu merbau tersebut tersimpan rapi di sela-sela tumpukan kayu jenis rimba campuran sehingga tidak dikenali ketika hanya melihat dari jauh.

“Ini mengindikasikan adanya upaya malpraktek perizinan yang dilakukan PT BBA dengan menyembunyikan kayu merbau dan dilaporkan hanya jenis kayu rimba campuran saja,” kata Koordinator Pemantau Independen Maluku Utara, Faizal Ratuela.

Bukan jumlah sedikit, pemantau menemukan tumpukan 40-100 pohon kayu merbau di lokasi penampungan PT BBA. Indikasi pelanggaran ini diperkuat saat menilik dokumen laporan perusahaan di Sistem Informasi Legalitas Kayu (SILK) KLHK yang tidak mencantumkan adanya jenis kayu merbau. Oleh karena itu, dugaan sementara pemantau, kayu merbau tersebut tidak dilaporkan ke SILK, atau memanupulasi laporan dengan menganggap kayu merbau sebagai jenis kayu rimba campuran.

Selain bukti berupa tumpukan kayu merbau, pemantau juga memperoleh keterangan dari warga sekitar HPH perusaahaan.  Proses wawancara dengan warga setempat membenarkan bahwa sudah sejak lama PT BBA juga menebang kayu merbau. 

Dalam proses penelusuran terkait informasi legalitas kayu tersebut, dinas terkait baik di Propinsi Maluku Utara maupun Halmahera Selatan belum juga mendapatkan data pemuatan kayu tersebut. Pihak yang ditemui beralasan operator yang bertugas mengakses data tersebut sedang tidak berada di tempat. Beberapa kali upaya mendatangi dinas terkait juga mengalami kendala yang sama.

Selain itu berdasarkan informasi yang disampaikan oleh tim pemantau JPIK Sulawesi Selatan, PT SGS yang menjadi penerima kayu dari PT BBA memiliki pelabuhan khusus yang sangat tertutup. Kondisi tersebut juga mengindikasikan adanya upaya sistematis yang dilakukan oleh dua perusahan tersebut untuk melakukan upaya pencucian kayu illegal jenis merbau dari Maluku Utara.

Saat ini tim pemantau belum bisa melaporkan pihak PT BBA ke pihak terkait. Saat ini pemantau masih mengumpulkan bukti untuk dilaporkan ke Kepada Dinas Kehutanan Propinsi Maluku Utara   

 

Leave your comments

Comments

  • No comments found