Kebal Hukum, Cukong Kayu di Surabaya Masih Beraksi

in Jawa Timur
Hits: 731

Jawa Timur sejak dulu menjadi wilayah strategis perdagangan kayu di negeri ini. Tak heran bila industri pengolahan kayu menjamur di sana. Tercatat lebih dari 1000 unit usaha pemegang Izin Usaha Industri Primer Hasil Hutan Kayu (IUIPHHK) di Jawa Timur.

Sebagai wilayah perdagangan yang strategis, peluang pelanggaran yang dilakukan pihak-pihak tertentu pun tak terhindarkan. Terbukti dengan banyaknya ditemukan pengekspor kayu illegal hingga hari ini. Padahal, Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) telah diberlakukan sejak 2009, dengan harapan agar pembalakan liar maupun perdagangan kayu ilegal dapat dihentikan.

Pada 2010 organisasi kehutanan Telapak dan Environmental Investigation Agency (EIA) yang berbasis di London melaporkan ada 2 aktor besar yang kerap mengekspor kayu merbau secara illegal ke China, yaitu Ricky Gunawan dari Surabaya dan pengusaha asal Makassar, Hengky Gosal. Sayangnya, kedua cukong tersebut tidak pernah dijerat hukum dan masih melakukan kegiatan ekspor kayu merbau ke China sampai hari ini.

Ricky Gunawan berdiri di bawa bendera perusahaan CV Surabaya Trading & Co (STC) dan PT Surabaya Trading Industri (STI). Perusahaan STC selama ini bergerak dibidang industri primer hasil hutan dan industri lanjutan serta ekspor, sedang PT STI bergerak di sektor trading ekspor. Perusahaan yang berkantor di Surabaya ini tercatat memiliki dua pabrik di Gresik, yaitu di jalan Veteran dan jalan Mayjen Sungkono.

Dari hasil pemantauan JPIK Jawa Timur, diketahui CV STC  masih mengekspor kayu merbau, khususnya ke China, Jepang, dan Korea. Sebelum tahun 2018, perusahaan menerima kiriman kayu bulat jenis merbau dari Papua dan Papuan Barat. Namun, sejak Juni 2018, kiriman tersebut terhenti. Diketahui, Dirjen Gakkum Kementerian LHK getol melakukan operasi di Papua maupun Papua Barat sejak awal tahun 2018.  Juga diketahui ada ribuan kubik kayu merbau senilai Rp 2 miliar milik Ricki Gunawan yang sudah ditebang belum juga diangkut dari hutan.

Kendati demikian, pemantau menemukan tumpukan kayu bulat jenis merbau di kedua pabrik milik Ricki. Jumlahnya pun tak sedikit, bahkan tak berkurang sepanjang pemantauan. Padahal, dari hasil wawancara pemantau dengan orang terdekat Ricki, pengiriman kayu merbau asal Papua tidak ada lagi.

Sebaliknya, dari hasil wawancara dengan karyawan perusahaan STC, diketahui bahwa kayu-kayu  merbau yang diterima perusahaan berasal dari Papua dan Papua Barat. Kayu yang diterima adalah jenis kayu olahan dengan ukuran beragam.  Selain Papua, ada juga yang berasal dari Kalimantan dan Sulawesi.

Selain itu, pemantau juga menemukan indikasi adanya upaya penyelundupan kayu merbau oleh perusahaan milik Ricki Gunawan. Sebagaimana informasi yang tersedia, STC berkantor di jalan Ngagel Jaya Tengah, Surabaya. Namun setelah ditelusuri,  tidak ada aktivitas kegiatan kantor di lokasi tersebut. Yang menjadi kantor utama atau pusat industri adalah pabrik yang  terletak di Jalan Veteran.

“Kami temukan modus baru pada PT Surabaya Trading Industri, yaitu dengan tidak mengolah stok kayu log yang dimiliki melainkan hanya sebagai bukti atau pelengkap bahwa dia mengolah kayu dari bahan log, padahal dia mendatangkan kayu olahan dari Kalimantan dan Papua,” kata Pemantau Independen, Muhammad Ichwan.

Leave your comments

Comments

  • No comments found